Sering kali kita mendengar tentang sangjit, tapi mungkin
tidak banyak yang tahu dan mengerti tentang persiapan dan tradisi tersebut.
Kadang kita hanya mengikuti apa yang telah diajarkan secara turun-temurun oleh keluarga
sebagai salah satu rangkaian menuju pesta pernikahan.
Dari manakah tradisi ini berasal? Sangjit sendiri berasal
dari bahasa Hokkien yang resminya disebut sang
jit-thau. Tradisi sangjit kemudian diserap oleh masyarakat WNI tionghua dan
kini disesuaikan dengan kebiasaan lokal. Kebanyakan dari kita
menyederhanakannya dan hanya mengambil inti dari acara tersebut. Pada dasarnya,
sangjit merupakan prosesi yang dilakukan setelah melakukan lamaran resmi pihak
keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Beberapa orang menyebutnya
‘prosesi antaran’, ada juga yang menyebutnya acara ‘tukar baki’. Mengapa
prosesi ini dianggap penting?
Dalam tradisi asal, sangjit dilakukan 3 bulan atau beberapa
minggu sebelum pernikahan. Keluarga calon pengantin laki-laki akan mengantar
sejumlah ‘hadiah’ kepada keluarga perempuan. Hadiah tersebut menyimbolkan
kemakmuran dan nasib baik. Pada umumnya, hadiah yang diantar pada saat sangjit
adalah berbagai jenis makanan; termasuk anggur, buah jeruk, teh, perhiasan,
lilin, dan tulisan mandarin dari kertas double
happiness. Pihak laki-laki juga menyerahkan ping jin yang biasa kita sebut dengan ‘uang susu’ atau ‘uang pesta’
dan pihak perempuan akan menyiapkan
beberapa hadiah balasan.
![]() |
| Photo by Innova Photograph |
Berbeda dengan tradisi masyarakat teochew. Mereka akan
menyiapkan 4 jenis perhiasan emas, kalung dan liontin, anting-anting, dan
gelang yang akan dipakaikan kepada pengantin perempuan oleh orang tua dari
pengantin laki-laki. Keempat perhiasan ini melambangkan keempat atap yang
melengkung seperti rumah tradisional masyarakat tersebut, dengan harapan
pernikahan ini akan bersatu dan rukun dalam rumah yang mereka tempati nantinya.
Dalam bakinya juga terdapat hopia dan permen kacang.
Apakah yang biasanya dipersiapkan oleh keluarga perempuan?
Orang tua perempuan biasanya menyiapkan satu set sprei, satu set pakaian baru,
satu buat tea set (yang akan dipakai data tea pai), satu set peralatan bayi
(termasuk alat mandi bayi, sikat gigi, kaca dan sisir), dua pasang sandal
pengantin/ slipper (biasanya berwarna
merah), satu set alat jahit (jarum, benang, peniti, gunting), dan perhiasan
emas yang dimaksudkan sebagai tabungan rumah tangga (biasanya dipakaikan pada
saat tea pai). Orang tua perempuan juga akan menyiapkan angpao yang akan
dibagikan kepada para pengantar (biasanya hanya mereka yang belum menikah yang
memegang baki).
Jumlah baki yang diantarkan memiliki berbagai arti yang
baik. Misalnya berjumlah 8 sebagai lambang infinity,
9 sebagai simbol keberuntungan, 12 sebagai lambang kelengkapan dari 12 shio
yang terdapat dalam kepercayaan masyarakat Cina. Masyarakat tionghua pun
percaya dan menyukai angka genap maka masing-masing hadiah disiapkan sepasang.
Dalam tradisi asal, hadiah tersebut dikembalikan setengahnya sebagai maksud
pengantin perempuan tidak dilepaskan sepenuhnya oleh keluarga. Apabila semua
hadiah diambil, maka pengantin perempuan sudah lepas dari keluarga dan orang
tua perempuan tidak boleh lagi turut campur dalam kehidupan rumah tangga baru
pasangan pengantin.
Bagaimana tradisi sangjit sekarang diadaptasi oleh
masyarakat kita? Apakah ada benar dan salah dalam pelaksanaannya? Semua
tergantung pada komunikasi dari kedua belah pihak untuk menentukan tradisi mana
yang akan dipakai dan apa saja yang perlu dipersiapkan sebagai hadiah. Tidak
ada salahnya jika kita menyesuaikan dengan kemampuan tanpa melupakan maksud
dari dilaksanakannya tradisi ini. Dengan atau tanpa prosesi sangjit, tentunya
kita berharap yang terbaik dari sebuah pernikahan.
(Disadur dari berbagai sumber)
All Images taken by Innova Photograph
Courtesy of Jerry and Wenny




No comments:
Post a Comment