Wednesday, February 4, 2015

Tradisi Sangjit Dalam Budaya Tionghua

Sering kali kita mendengar tentang sangjit, tapi mungkin tidak banyak yang tahu dan mengerti tentang persiapan dan tradisi tersebut. Kadang kita hanya mengikuti apa yang telah diajarkan secara turun-temurun oleh keluarga sebagai salah satu rangkaian menuju pesta pernikahan.

Dari manakah tradisi ini berasal? Sangjit sendiri berasal dari bahasa Hokkien yang resminya disebut sang jit-thau. Tradisi sangjit kemudian diserap oleh masyarakat WNI tionghua dan kini disesuaikan dengan kebiasaan lokal. Kebanyakan dari kita menyederhanakannya dan hanya mengambil inti dari acara tersebut. Pada dasarnya, sangjit merupakan prosesi yang dilakukan setelah melakukan lamaran resmi pihak keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Beberapa orang menyebutnya ‘prosesi antaran’, ada juga yang menyebutnya acara ‘tukar baki’. Mengapa prosesi ini dianggap penting?

Dalam tradisi asal, sangjit dilakukan 3 bulan atau beberapa minggu sebelum pernikahan. Keluarga calon pengantin laki-laki akan mengantar sejumlah ‘hadiah’ kepada keluarga perempuan. Hadiah tersebut menyimbolkan kemakmuran dan nasib baik. Pada umumnya, hadiah yang diantar pada saat sangjit adalah berbagai jenis makanan; termasuk anggur, buah jeruk, teh, perhiasan, lilin, dan tulisan mandarin dari kertas double happiness. Pihak laki-laki juga menyerahkan ping jin yang biasa kita sebut dengan ‘uang susu’ atau ‘uang pesta’  dan pihak perempuan akan menyiapkan beberapa hadiah balasan.

Photo by Innova Photograph 
Tradisi sangjit dan berbagai hadiahnya berbeda-beda sesuai dengan adat dari suku. Pihak perempuan diharuskan mengikuti tradisi yang dipakai oleh pihak laki-laki. Dalam tradisi hokkien, hadiah juga termasuk kaki babi dan kue beras sebagai simbol kewajiban perempuan mengemban tugasnya sebagai istri dalam rumah tangga. Hadiah lain yang disiapkan berupa buah longan, biji lotus, berbagai manisan sebagai harapan rumah tangga yang berbahagia.


Berbeda dengan tradisi masyarakat teochew. Mereka akan menyiapkan 4 jenis perhiasan emas, kalung dan liontin, anting-anting, dan gelang yang akan dipakaikan kepada pengantin perempuan oleh orang tua dari pengantin laki-laki. Keempat perhiasan ini melambangkan keempat atap yang melengkung seperti rumah tradisional masyarakat tersebut, dengan harapan pernikahan ini akan bersatu dan rukun dalam rumah yang mereka tempati nantinya. Dalam bakinya juga terdapat hopia dan permen kacang.

Apakah yang biasanya dipersiapkan oleh keluarga perempuan? Orang tua perempuan biasanya menyiapkan satu set sprei, satu set pakaian baru, satu buat tea set (yang akan dipakai data tea pai), satu set peralatan bayi (termasuk alat mandi bayi, sikat gigi, kaca dan sisir), dua pasang sandal pengantin/ slipper (biasanya berwarna merah), satu set alat jahit (jarum, benang, peniti, gunting), dan perhiasan emas yang dimaksudkan sebagai tabungan rumah tangga (biasanya dipakaikan pada saat tea pai). Orang tua perempuan juga akan menyiapkan angpao yang akan dibagikan kepada para pengantar (biasanya hanya mereka yang belum menikah yang memegang baki).
Jumlah baki yang diantarkan memiliki berbagai arti yang baik. Misalnya berjumlah 8 sebagai lambang infinity, 9 sebagai simbol keberuntungan, 12 sebagai lambang kelengkapan dari 12 shio yang terdapat dalam kepercayaan masyarakat Cina. Masyarakat tionghua pun percaya dan menyukai angka genap maka masing-masing hadiah disiapkan sepasang. Dalam tradisi asal, hadiah tersebut dikembalikan setengahnya sebagai maksud pengantin perempuan tidak dilepaskan sepenuhnya oleh keluarga. Apabila semua hadiah diambil, maka pengantin perempuan sudah lepas dari keluarga dan orang tua perempuan tidak boleh lagi turut campur dalam kehidupan rumah tangga baru pasangan pengantin.


Bagaimana tradisi sangjit sekarang diadaptasi oleh masyarakat kita? Apakah ada benar dan salah dalam pelaksanaannya? Semua tergantung pada komunikasi dari kedua belah pihak untuk menentukan tradisi mana yang akan dipakai dan apa saja yang perlu dipersiapkan sebagai hadiah. Tidak ada salahnya jika kita menyesuaikan dengan kemampuan tanpa melupakan maksud dari dilaksanakannya tradisi ini. Dengan atau tanpa prosesi sangjit, tentunya kita berharap yang terbaik dari sebuah pernikahan.


(Disadur dari berbagai sumber)
All Images taken by Innova Photograph
Courtesy of Jerry and Wenny

No comments:

Post a Comment